AbuHurairah Radhiyallahu 'Anhu menuturkan sabda Rasulullah ๏ทบ tentang kekasih Allah yang tersembunyi; yang kedudukannya amat diidamkan para mulia yang di atas kita sebut namanya. "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mencintai hamba-hamba yang diciptakanNya", begitu kalimat Nabi ๏ทบ dalam riwayat Muslim, "Yang terpilih, yang suka KekasihAllah Yang Tersembunyi. 0 Khazanah Wali Allah November 22, 2016. A + A-Print Email. Allah menyembunyikan kekasihNya diantara manusia. Ujar Umar ibn Al Khathtab, "Sebagaimana Dia menyembunyikan Lailatul Qadr diantara malam-malam bulan Ramadhan." Mereka Atqiya'ul Akhfiya', orang-orang yang bertakwa lagi tersembunyi. Mereka PendengarYang Budiman Silahkan Pasang earphone/Sesuaikan Volumenya Terlebih Dahulu Untuk Kenyamanan Anda,Cerita Kisah Kali ini Tentang Seorang Pemuda Taat Y KarenaDiantara Kekasih Allah Banyak Yang Tersembunyi Maka Dari Itu Berbaik Sangkalah Wahai Saudaraku. Bagaimanakriteria hamba-hamba yang menjadi kekasih Allah? Simak sampai selesai agar tidak gagal paham. Silahkan simak video-video lain di Channel ini jika b Berbedadengan mereka, kekasih Allah atau waliyullah itu justru mempermainkan dunia, mempermainkan harta, mempermainkan kekuasaan, untuk Allah semata. Putra Sayidina Husein bin Ali, yaitu Ali bergelar Zainal Abidin as-Sajjad, suatu ketika sedang asyik shalat sunah di Masjidil Haram. Dia adalah sosok kekasih Allah yang sepanjang usianya banyak kitaharus hati hati, jangan sampai tidak beradab dengan orang ini, karena inilah petunjuk ciri ciri seorang wali allah / kekasih allah - guru bakhiet#walial KekasihAllah Yang Tersembunyi - Hikmah Buya YahyaMadrasah Ramadhan Bersama Buya Yahya | 19 Ramadhan 1439 H / 04 Juni 2018Kitab Adabul Alim Wal Muta'alim Kar Orangmakrifat adalah orang yg telah kembali ke rahmatullah sebelum dirinya mati hakiki.. Hilang kezahiran hilang keakuan hidup dan orang yg kehilangan hak a Semogabermanfaat :) Silahkan subscribe, like, comment and share ya Follow my socmed :Instagram : : https://faceboo GDRIeCl. ๏ปฟโ€“ Para kekasih Allah SWT terbagi menjadi dua bagian. Di antaranya Al-Muqtashid orang yang sedang-sedang dan Assabiquna bil khairat orang yang bersegera berbuat kebajikan. Dikutip dari buku Jangan Takut Hadapi Hidup karya Dr Aidh Abdullah Al-Qarny, Dalam hadits Qudsi Rasulullah ๏ทบ bersabda, Allah SWT berfirman . ูˆูŽู…ูŽุง ุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจูŽ ุฅูู„ููŠู‘ูŽ ุนูŽุจู’ุฏููŠู’ ุจูุดูŽูŠุกู ุฃูŽุญูŽุจู‘ูŽ ุฅูู„ููŠู‘ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ุงูู’ุชูŽุฑูŽุถู’ุชูู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู. ูˆู„ุงูŠูŽุฒูŽุงู„ู ุนูŽุจู’ุฏููŠู’ ูŠูŽุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจู ุฅูู„ูŽูŠู‘ูŽ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽุงููู„ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูุญูุจู‘ูŽู‡ูุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุญู’ุจูŽุจุชูู‡ู ูƒูู†ู’ุชู ุณูŽู…ู’ุนูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนู ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽุจูŽุตูŽุฑูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ ูŠูุจู’ุตูุฑู ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽูŠูŽุฏูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูŠูŽุจู’ุทูุดู ุจูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฑูุฌู’ู„ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูŠูŽู…ู’ุดููŠู’ ุจูู‡ูŽุง. ูˆูŽู„ูŽุฆูู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ูŽู†ููŠู’ ู„ุฃูุนุทููŠูŽู†ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู„ูŽุฆูู†ู’ ุงุณู’ุชูŽุนูŽุงุฐูŽู†ููŠู’ ู„ุฃูุนููŠู’ุฐูŽู†ู‘ูŽู‡ู "Tidaklah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang paling dicintainya dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia menampar, kakinya yang dengannya ia berjalan, jika ia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memenuhi permintaanya dan jika ia meminta perlindungan-Ku, sungguh Aku akan melindunginya." HR Bukhari Adapun Al-Muqtashid artinya mereka yang merasa cukup dengan melaksanakan segala kewajiban yang telah dibebankan Allah SWT kepadanya ibadah mahdah dan menjauhi dosa-dosa besar. Sementara Assabiquna bil khairat artinya mereka yang tidak puas hanya dengan melaksanakan kewajiban yang telah diwajibkan Allah SWT kepadanya, mereka ingin bersegera meraih kedekatan Allah SWT. dengan melaksanakan ibadah yang sifatnya sunnah, menjauhi dosa-dosa besar, dan meninggalkan yang makruh. ุนู† ุฑุจูŠุนุฉ ุจู† ูƒุนุจ ุงู„ุฃุณู„ู…ูŠ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูƒู†ุช ุฃุจูŠุชู ู…ุน ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุฃุชูŠุชูู‡ ุจูˆูŽุถูˆุฆูู‡ ูˆุญุงุฌุชู‡ ูู‚ุงู„ ู„ูŠ ุณู„ู’ุŒ ูู‚ู„ุชู ุฃุณุฃู„ููƒ ู…ุฑุงูู‚ุชูŽูƒ ููŠ ุงู„ุฌู†ุฉุŒ ู‚ุงู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃูˆ ุบูŠุฑ ุฐู„ูƒุŸ ู‚ู„ุช ู‡ูˆ ุฐุงูƒุŒ ู‚ุงู„ ูุฃุนู†ูู‘ูŠ ุนู„ู‰ ู†ูุณููƒ ุจูƒุซุฑุฉ ุงู„ุณุฌูˆุฏ Ada salah seorang pemuda mendatangi Rasulullah ๏ทบ dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku ingin bersamamu di surga kelak." Rasulullah ๏ทบ berkata, "Apa ada hal lain yang kamu inginkan?" Pemuda itu berkata, "Hanya itu yang aku inginkan." akhirnya Rasulullah ๏ทบ berkata, "Kalau demikian, bantulah aku agar dapat menolongmu dengan memperbanyak sujud." HR Muslim, Abu Daud, dan Nasai. Baca juga Pimpinan Nurul Musthofa Soal M Kece Kita Marah Nabi Dihina Artinya, bekali dirimu dengan ibadah sunnah sehingga kamu dicintai Allah SWT dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Ibadah sunnah itu amat banyak, baik yang berbentuk sholat, puasa, dzikir dan sedekah. Setiap orang Islam pasti mengetahui perkara yang membawa nilai manfaat pada dirinya dan yang dapat melembutkan hatinya. Untuk itu, selayaknya bagi orang yang mengetahui akan hal ini dapat menjalankannya, sehingga menjadikan dirinya salah satu kekasih Allah SWT. Para kekasih-Nya adalah mereka yang senantiasa menjaga ibadah sunnah, senang berpuasa, gemar melaksanakan sholat dhuha dan tidak pernah lupa memanjatkan doa kepada Allah di keheningan malam setelah qiyamul lail. [ad_1] Meyakini adanya manusia pilihan yang menjadi kekasih Allah adalah salah satu ajaran dalam agama Islam. Kekasih Allah atau yang biasa dikenal dengan waliyullah adalah orang-orang terpilih yang memiliki kedekatan secara khusus dengan Allah subhanahu wataโ€™ala. Mengenai waliyullah ini, Al-Qurโ€™an menjelaskan ุฃูŽู„ูŽุงู“ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงู“ุกูŽ ูฑู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ุฎูŽูˆู’ููŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุญู’ุฒูŽู†ููˆู†ูŽ โ€œIngatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hatiโ€ QS. Yunus 62. Waliyullah secara umum terdiri dari berbagai macam kategori. Mulai dari wali abdal, wali autad, wali nuqabaโ€™, wali nujabaโ€™, sampai wali qutb al-aqthab. Para waliyullah ini mengemban berbagai macam tugas masing-masing serta diberi keistimewaan oleh Allah dengan memiliki karamah yang berbeda-beda Syekh Dliyaโ€™uddin Ahmad bin Mushthafa, Jamiโ€™ al-Ushul fi al-Auliya, hal. 168. Jalan yang ditempuh mereka tak lain adalah menggapai marifatullah. Dalam ilmu tasawwuf, terdapat dua jalan untuk menggapai makrifat ini. Pertama, suluk. Jalan ini adalah pilihan jalan yang ditempuh secara normal. Seseorang yang mengamalkan laku tasawuf secara tidak langsung juga disebut sebagai salik. Kedua, jadzab. Jalan ini adalah jalan khusus yang tidak sembarang orang bisa mengamalkan, hanya orang-orang khusus yang memang terpilih yang dapat menempuh jalan ini. Dua jalan menuju marifatullah di atas, secara sederhana diilustrasikan dalam kitab Nasihah al-Murid fi Thariq ahli as-Suluk wa at-Tajrid berikut ุงุนู„ู… ุฃู† ุงู„ุฌุฐุจ ูˆุงู„ุณู„ูˆูƒ ู…ุซู„ู‡ู…ุง ูƒุงู„ุฃุดุฌุงุฑุŒ ุดุฌุฑุฉ ุงู„ุฌุฐุจ ู„ู‡ุง ุนุฑูˆู‚ ูˆูุฑูˆุนุŒ ูˆูƒุฐู„ูƒ ุดุฌุฑุฉ ุงู„ุณู„ูˆูƒ ู„ู‡ุง ุนุฑูˆู‚ ูˆูุฑูˆุน ูˆูƒู„ู‘ ุนุฑู‚ ูˆูุฑุน ู…ู†ู‡ู…ุง ู„ู‡ ุฃุซู…ุงุฑ. ุนุฑูˆู‚ ุงู„ุฌุฐุจ ู‡ูŠ ุงู„ุนู„ูˆู… ุงู„ู„ุฏู†ูŠุฉ ุงู„ุบูŠุจูŠุฉุŒ ูˆุฃุซู…ุงุฑ ูุฑูˆุน ุงู„ุฌุฐุจ ู‡ูŠ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุตุงุญุจู‡ุง ุจุฃู…ุฑ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูŠู‚ูˆู„ ู„ู„ุดูŠุก ูƒู† ููŠูƒูˆู† ูˆุงู„ูƒู„ู‘ ู…ูˆุงู‡ุจ ูˆูƒุฐู„ูƒ ุนุฑูˆู‚ ุดุฌุฑ ุงู„ุณู„ูˆูƒ ุชุซู…ุฑ ุจุงู„ุนู„ู… ุงู„ุธุงู‡ุฑุŒ ูˆูุฑูˆุนู‡ ุชุซู…ุฑ ุจุงู„ุนู…ู„ ุงู„ุธุงู‡ุฑูŠุŒ ูˆุฅู† ุชูุงูˆุช ุฃู‡ู„ ุงู„ุณู„ูˆูƒ ู…ุน ุฃู‡ู„ ุงู„ุฌุฐุจ ุฅู„ู‘ุง ุฃู†ู‘ูŽ ุฃู‡ู„ ุงู„ุณู„ูˆูƒ ุนุจุงุฏุชู‡ู… ู…ู† ูˆุฑุงุก ุญุฌุงุจุŒ ูˆุฃู‡ู„ ุงู„ุฌุฐุจ ู…ุง ุจูŠู†ู‡ู… ูˆุจูŠู† ุงู„ู„ู‡ ุญุฌุงุจ ู…ู†ู‡ ุฅู„ูŠู‡ู…ุŒ ูˆู…ู†ู‡ู… ุฅู„ูŠู‡ โ€œKetahuilah bahwa jadzab dan suluk itu seperti pepohonan. Pohon jadzab memiliki akar dan tangkai, begitu pula pohon suluk juga memiliki akar dan tangkai. Setiap akar dan tangkai dari kedua pohon tersebut memiliki buah. Akar dari pohon jadzab adalah ilmu laduni yang bersifat ghaib, dan buah dari tangkai pohon jadzab adalah saat orang yang jadzab mendapat perintah Allah agar mengatakan pada sesuatu kun fa yakun, segalanya murni pemberian dari Allah. Sedangkan akar dari pohon suluk dapat membuat pohon berbuah dengan Ilmu yang dzahir tampak dan tangkainya berbuah dengan amal yang bersifat dzahir, meski orang yang mengamalkan laku suluk dan orang jadzab berbeda, orang yang mengamalkan laku suluk beribadah di belakang tirai penghalang dari Allah, sedangkan orang jadzab tidak ada di antara mereka dan Allah penghalang apa pun. Pesan dari Allah langsung pada mereka, dan ibadah dari mereka langsung tertuju pada Allahโ€ Syekh Ali bin Abdurrahman bin Muhammad al-Imrani, Nasihah al-Murid fi Thariq ahli as-Suluk wa at-Tajrid, Hal. 17 Berdasarkan referensi di atas, orang yang mengamalkan laku suluk masih berada di bawah orang yang sudah sampai pada fase jadzab. Jadzab sendiri oleh para ulama didefinisikan dengan pengertian berikut ุงู„ุฌุฐุจุฉ ู‡ูŠ ุงู„ุชุฌู„ูŠ ุงู„ุฅู„ู‡ูŠุŒ ูˆููŠู‡ุง ูŠุญุตู„ ุงู„ุชุญู‚ูŠู‚ ุจุงู„ุฃุณู…ุงุก ุงู„ุฅู„ู‡ูŠุฉุŒ ูˆุงู„ุงุณุชุดุนุงุฑ ุจุงู„ุงุณู… ุงู„ุตู…ุฏ โ€œJadzab adalah tampaknya sifat-sifat ilahi. Ketika dalam kondisi jadzab, akan betul-betul tampak secara nyata sifat-sifat Allah dan seseorang mampu merasakannyaโ€ Syekh Mahmud Abdur Rauf al-Qasim, al-Kasyf an Haqiqah as-Shufiyyah, juz 1, hal. 244 Orang yang dalam kondisi jadzab seringkali melakukan perbuatan di luar nalar manusia biasa. Sebab apa yang dilakukan oleh mereka dalam keadaan jadzab sudah di luar kapasitasnya sebagai manusia. Meski demikian, patut dibedakan antara orang yang melakukan hal-hal aneh khรขriq al-รขdah karena memang betul-betul jadzab dengan orang yang hanya pura-pura jadzab. Untuk menandai perbedaan dua orang ini cukup sederhana, yakni dengan cara melihat tingkah laku orang tersebut setelah kondisi terjaga. Jika saat kondisi normal, ia senantiasa berdzikir dan beribadah serta menjauhi hal-hal duniawi yang bersifat profan, maka bisa dipastikan keanehan yang ia lakukan adalah berangkat dari maqam jadzab. Sebaliknya, jika seseorang setelah dalam kondisi normal justru lebih mendekatkan diri pada hal-hal yang bersifat duniawi dan senang mendekat dengan orang-orang yang memiliki ambisi duniawi, maka bisa dipastikan keanehan yang ia lakukan bukanlah bermula dari keadaan jadzab, tapi hanya sebatas tipu daya yang dilakukannya untuk menarik perhatian orang lain. Perbedaan dua karakteristik ini seperti yang digambarkan dalam pembahasan menari saat berdzikir yang dijelaskan dalam kitab Zad al-Muslim fi ma Ittafaqa alaihi al-Bukhari wa Muslim ูˆุงุนู„ู… ุฃู† ุงู„ุฑู‚ุต ูู‰ ุญุงู„ ุงู„ุฐูƒุฑ ู„ูŠุณ ู…ู† ุงู„ุดุฑุน ูˆู„ุง ู…ู† ุงู„ู…ุฑูˆุกุฉ ูˆู„ู… ูŠุนุฐุฑ ููŠู‡ ุงู„ู‘ุง ุงู„ูุฑุฏ ุงู„ู†ุงุฏุฑ ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุฃุญูˆุงู„ ูˆุงู„ุฌุฐุจ ูˆู„ู‡ ุนู†ุฏ ุงู„ู‚ูˆู… ุนู„ุงู…ุฉ ูŠู…ูŠุฒูˆู† ุจู‡ุง ุจูŠู† ู…ุง ูƒุงู† ู…ู†ู‡ ุนู† ุฌุฐุจ ุญู‚ูŠู‚ูŠ ูˆุจูŠู† ู…ุง ูƒุงู† ุนู† ุชู„ุงุนุจ ูˆุชู„ุจูŠุณ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุงุณ ูู‚ุฏ ู‚ุงู„ูˆุง ุฅู†ู‘ ุงู„ู…ุฌุฐูˆุจ ุฅุฐุง ูƒุงู† ุจุนุฏ ุงู„ุตุญูˆ ูŠูˆุฌุฏ ู…ุนุฑุถุง ุนู† ุงู„ุฏู†ูŠุง ูˆุฃู‡ู„ู‡ุง ู…ู‚ุจู„ุง ุนู„ู‰ ุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ ูˆุนุจุงุฏุชู‡ ูู‡ุฐุง ุฌุฐุจู‡ ุญู‚ูŠู‚ูŠ ูˆูŠุนุฐุฑ ูู‰ ุฑู‚ุตู‡ ูˆุฅุฐุง ูƒุงู† ุจุนุฏ ุงู„ุตุญูˆ ู…ู† ุชุฌุงุฐุจู‡ ูˆุฑู‚ุตู‡ ูŠูˆุฌุฏ ู…ู‚ุจู„ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฏู†ูŠุง ู…ุชุฃู†ุณุง ุจุฃู‡ู„ู‡ุง ู„ุง ูุฑู‚ ุจูŠู†ู‡ ูˆุจูŠู†ู‡ู… ูู‰ ุงู„ุฃุญูˆุงู„ ูˆุงู„ู„ู‡ูˆ ูู‡ูˆ ู…ุชู„ุงุนุจ ูƒุงุฐุจ ูู‰ ุฏุนูˆู‰ ุฌุฐุจู‡ ุตุงุญุจ ุฑู‚ุต ูˆู„ุนุจ ูู‡ูˆ ู…ู…ู† ุงุชู‘ุฎุฐ ุฏูŠู†ู‡ ู‡ุฒูˆุง ูˆู„ุนุจุง โ€œKetahuilah bahwa menari pada saat berdzikir bukan bagian dari ajaran syariat dan bukan bagian dari budi pekerti yang baik. Tindakan tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk dibenarkan oleh siapa pun kecuali bagi orang khusus dari kalangan orang jadzab. Menurut sebagian kalangan ulama sufi jadzab memiliki tanda-tanda tertentu yang membedakan antara tindakan jadzab yang hakiki dan tindakan yang berangkat dari main-main dan tipu daya di hadapan manusia. Mereka berkata bahwa orang yang jadzab ketika setelah sadar ia berpaling dari dunia dan menghadap untuk berdzikir pada Allah dan beribadah kepada-Nya, maka sikap jadzabnya adalah sikap jadzab yang sungguhan, tindakannya menari saat berdzikir dianggap udzur. Sedangkan ketika setelah sadar dari jadzab dan selesai menari saat dzikir, seseorang lantas menghadap pada dunia dan merasa senang berjumpa dengan orang yang tergiur dengan dunia, hingga tidak ada perbedaan antara dirinya dan orang yang tergiur dengan dunia dalam perbuatan dan sikap main-mainnya, maka ia adalah orang yang main-main dan bohong atas klaim kejadzabannya saat menari dan bersenda gurau, ia adalah bagian dari orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurauโ€ Syekh Muhammad Habibullah bin Abdullah as-Syinqithi, Zad al-Muslim fi ma Ittafaqa alaihi al-Bukhari wa Muslim, juz 3, hal. 155 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jadzab adalah sebuah keadaan saat seseorang sudah lepas dalam kapasitasnya sebagai manusia karena tampak secara jelas padanya sifat-sifat Allah tajalli, segala keanehan perbuatan yang dilakukan dalam kondisi jadzab bermula dari petunjuk Allah. Orang yang sudah sampai pada maqam jadzab ini biasa dikenal dengan sebutan majdzub. Sedangkan masyarakat mengenal orang yang sudah sampai pada maqam ini dengan sebutan wali jadzab atau wali majdzub. Wallahu aโ€™lam. Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember [ad_2] Source link โ€œAllah menyembunyikan kekasihNya di antara manusiaโ€, ujar Umar ibn Al Khaththab, โ€œSebagaimana Dia menyembunyikan Lailatul Qadr di antara malam-malam bulan Ramadhan.โ€ Semua malam bulan Ramadhan memang istimewa. Tapi yang paling dahsyat adalah hadirnya yang rahasia, yang hanya dikenali dari tanda-tanda yang tak seorangpun mudah memastikannya. Orang-orang yang menetapi kewajiban kepada Allah dan menjauhi laranganNya sungguh istimewa. Merekalah orang bertaqwa, merekalah kekasihNya. Tapi kekasih Allah pun berderajat-derajat tingkatannya. Dan termasuk tingkatan yang tertinggi di antara mereka, seperti kata Sayyidina Umar, adalah yang tak mudah dikenali oleh mata manusia. Merekalah Atqiyaโ€™ul Akhfiyaโ€™, orang-orang yang bertaqwa lagi tersembunyi. Mereka terkenal di langit meski diabaikan di bumi. Mereka dirindukan surga meski dikucilkan dunia. Inilah catatan penting kita, bahwa orang-orang shalih yang menjadi kekasih Allah sama sekali bukanlah orang yang menonjolkan diri. Mungkin memang ada di antara mereka yang menonjol, tapi bukan sebab keinginan dirinya. Dan sungguh hati mereka juga tak pernah menyukai keterkenalan itu. Allah hanya hendak membebani mereka dengan ujian yang lebih berat berupa kemasyhuran. Maka Muโ€™adz ibn Jabal menangisi keterkenalannya, sebab dia disebut oleh Sang Nabi ๏ทบ sebagai yang paling mengerti halal dan haram dalam agama. Maka Muhammad ibn Wasi' berkata, โ€œAndai dosa ada baunya, takkan ada seorangpun di antara kalian yang tahan duduk di sisiku.โ€ Maka Imam An Nawawi tersedu memalingkan diri, ketika digelari sebagai Muhyiddin, sang penghidup agama. Maka Yusuf Al Qaradlawy berkata โ€œCukup!โ€ dan Muhammad ibn Shalih Al Utsaimin menyuruh pembawa acara diam, ketika menyebut keduanya sebagai โ€œAl Allamahโ€, yang amat dalam ilmunya. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu menuturkan sabda Rasulullah ๏ทบ tentang kekasih Allah yang tersembunyi; yang kedudukannya amat diidamkan para mulia yang di atas kita sebut namanya. salimafillahโ€œSesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai hamba-hamba yang diciptakanNyaโ€, begitu kalimat Nabi ๏ทบ dalam riwayat Muslim, โ€œYang terpilih, yang suka menyembunyikan amal, yang bajik, yang kusut rambutnya, yang berdebu mukanya, dan yang kelaparan perutnya. Jika mereka meminta izin kepada Amir untuk menghadap, maka mereka tak diizinkan. Jika memberi anjuran, maka kata-kata mereka tak dianggap. Jika melamar, maka mereka tidak dinikahkan. Jika tak hadir, maka mereka tak dicari. Jika muncul, kedatangan mereka tak disambut. Jika sakit, mereka tidak dijenguk. Jika mati, mereka tidak dipersaksikan.โ€ Betapa Maha Bijaksana, Dzat yang menyatakan kepada kita bahwa makhluq yang paling mulia di antara kita di sisiNya adalah yang paling bertaqwa. Tetapi juga sekaligus mengabarkan melalui RasulNya bahwa ketaqwaan itu ada di dalam dada, tak dapat dilihat oleh mata manusia siapapun dia. Ianya bermakna; teruslah berkhusyuโ€™ memperjuangkan taqwa dalam diri, dan selalulah tawadhuโ€™ kepada sesama hamba. Sungguh kita tertuntut untuk tak meremehkan seorangpun di antara hamba Allah yang shalih seisi bumi, sebab boleh jadi mereka adalah para kekasihNya yang jauh lebih terkasih dibanding kita.. Maka mari meniti jalan zuhud seperti yang diungkap cirinya oleh Hasan Al Bashri. โ€œSang zahid adalahโ€, kata beliau, โ€œDia yang jika berjumpa orang lain selalu berkata pada dirinya, Beliau lebih utama daripada aku.โ€™โ€ Dengan meneladani jawaban salam Habibullah ๏ทบ pada Rabbnya pada saat Miโ€™raj, kita menyebut orang-orang shalih itu di dalam doa tasyahud shalat kita, agar kita tergabung bersama mereka. โ€œAssalamu alaina wa ala ibadillahish shalihin.. Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih.โ€ Reshared dari ust. salimafillah๏ปฟ